Pembelajaran Jarak Jauh

Sabtu, 07 Januari 2017

Tugas Teknologi Pendidikan "Distance Learning"



 

PEMBELAJARAN_JARAK_JAUH


MAKALAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN
DESKRIPTIF PEMBELAJARAN JARAK JAUH
(DISTANCE LEARNING)

Dosen Pengampu : Roojil Fadhillah bin Akhmad Lc., M.Pd.I.

Description: logo-umy-hitam-putih.jpg



Disusun oleh:
Rina Nur Uswatun Hasanah   20140820032
Ilusi Suryaningsih                   20140820007 
Wa Ode Firnia                                20140820017





PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya hingga sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmat yang Allah berikan kepada kita semua, dan tidak lupa pula sholawat serta salam kami panjatkan kepada Nabi kita Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen  mata kuliah metodelogi penelitian   yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk menyusun sebuah karya berupa makalah, berkat motivasi dari dosen dan kawan-kawan semua, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “proses belajar mengajar”  kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam makalah ini, sehingga kami senantiasa terbuka untuk menerima saran dan kritik pembaca demi penyempurnaan makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa  memberi perubahan kepada diri kita ke arah yang lebih baik.


Yogyakarta, 8 April 2016
Penyusun

 

DAFTAR ISI






BAB I
PENDAHULUAN


  1.1            Latar Belakang

Perubahan yang terjadi dari berbagai bidang kehidupan masyarakat dunia, menuntut mereka untuk berubah dan melakukan perubahan-perubahan lainnya. Masyarakat perlu berusaha menjawab dan memberikan solusi pada kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Upaya peningkatan kuantitas, kualitas, efektifitas, dan effesiensi pendidikan selalu dikembangkan baik oleh pemerintah, masyarakat maupun lembaga pendidikan. Upaya pengembangan itu dapat dilakukan melalui berbagai strategi yang efektif dan effesien, diantaranya melalui pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Pada awal terselenggaranya, pembelajaran jarak jauh oleh masyarakat dianggap sebagai jenis pendidikan alternatife atau pendidikan kelas dua yang kalah gengsinya dari pendidikan konvensional yang mengharuskan kehadiran pembelajaran. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunkasi yang pesat pembelajaran jarak jauh diselenggarakan secara online melalui internet. Pembelajaran jarak jauh secara online mendapat apresiasi yang tinggi di masyarakat bahkan ada yang menganggap lebih bergengsi dibandingkan pendidikan konvensional yang cenderung kurang memanfaatkan kemajuan teknologi.
Pembelajaran jarak jauh dirancang untuk melayani pembelajaran dalam jumlah yang besar dengan latar belakang pendidikan, usia, dan tempat tinggal yang beragam. Untuk mengatasi keterbatasan pembelajaran jarak jauh yang tidak ada tatap mukanya, maka pembelajaran dilengkapi dengan penggunaan media yang memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih effesien dan efektif. Pembelajaran jarak jauh muncul karena sekolah atau perguruan tinggi daya tampingnya sangat terbatas. Pembelajaran dapat menentukan waktu belajarnya sendiri kapan saja, dan dimana saja, sesuai dengan kecepatan dan gaya belajarnya. Media pembelajaran utama dalam pembelajaran jarak jauh pada awalnya hanya modul, namun seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, muncul media pembelajaran berbantuan komputer, audio, video, media nocetak, multimedia, internet, dan lain-lain.


  1.2            Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning )?
2.      Bagaimana perkembangan Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)?
3.      Apa saja prinsip-prinsip Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)?
4.      Apa saja karakteristik Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)?
5.      Apa saja kelemahan dan kelebihan Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)?

  1.3            Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)
2.      Untuk mengetahui bagaimana Perkembangan Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)
3.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)
4.      Untuk mengetahui karakteristik Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)
5.      Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)




  


BAB II
PEMBAHASAN


  2.1            Pengertian Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)

Pengertian pembelajaran jarak jauh adalah ketika proses pembelajaran tidak terjadinya kontak dalam bentuk tatap muka langsung antara pengajar dan pembelajar. Komunikasi berlangsung dua arah yang dijembatani dengan media seperti computer, televisi, radio, telepon, internet, video, dan sebagainya. Pembelajaran konvensional dan pembelajaran jarak jauh menekankan bahwa (distance learning) akan efektif jika pembelajaran merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk belajar dengan adanya komunikasi. Tanpa komunikasi timbal balik pembelajaran akan berubah menjadi indoktrinasi, belajar bukannya merupakan aktivitas menyenangkan, melainkan menjadi beban yang berat. Perbedaan pembelajaran konvensional dan pembelajaran jarak jauh terletak pada bentuk interaksi antara pengajar dan pembelajaran, karakteristik pembelajaran, jenis program, peran sumber daya manusia, manajemen, teknologi, dan sebagainya. Namun perbedaan tersebut bukan merupakan kendala untuk mengembangkan pembelajaran jarak jauh menuju pendidikan yang mencerahkan dan meningkatkan kualitasnya. [1]

                  Beberapa orang ahli mengungkapkan pengertian pembelajaran jarak jauh, diantaranya G.Dogmen, G. Mackenzie, E. Christensen, dan P. Rigby, dan O. Peter. [2]
1.      G. Dogmen
Menurut Dogmen ciri-ciri pembelajaran jarak jauh adalah adanya organisasi yang mengatur cara belajar mandiri, materi pembelajaran disampaikan melalui media, dan tidak ada kontak langsung antara pengajar dengan pembelajar. Belajar mandiri diorganisasikan secara sistematis dalam menyajikan materi pembelajaran, pemberian bimbingan kepada pembelajar, dan pengawasan untuk keberhasilan belajar pembelajar.
2.      G. Mackenzie, E. Cristensen, dan P. Rigby
Mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh merupakan metode pembelajaran menggunakan korespondensi sebagai alat untuk berkomunikasi antara pembelajar dengan pengajar. Pendidikan jarak jauh itu merupakan bentuk pendidikan yang memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk belajar secara terpisah dari pengajarnya. Namun ada kemungkinan untuk acara pertemuan antara pengajar dan pembelajar hanya dilakukan kalau ada peristiwa yang istimewa atau untuk melakukan tugas-tugas tertentu saja.
3.      O. Peter
Peter memberikan batasan pembelajaran jarak jauh sebagai metode penyampaian ilmu, keterampilan, dan sikap yang dipengaruhi cara-cara mengelola suatu industri. Materi pembelajaran diproduksi dalam jumlah banyak dengan menggunakan teknologi yang maju, kemudian didistribusikan kepada pengguna secara luas. Batasan dari Peter ini mengandung beberapa karakteristik yaitu, pertama dimanfaatkannya teknologi sebagai media yang diproduksi dalam jumlah banyak namun tetap dengan mutu yang tinggi. Kedua, pendidikan dapat diberikan secara massal. Ketiga, materi pembelajaran dirancang, dikembangkan, diproduksi, dibagikan, dan dikelola dalam kegiatan pembelajaran oleh orang yang berbeda-beda.

  2.2            Perkembangan Pembelajaran Jarak Jauh

Sistem pendidikan jarak jauh ini awalnya ikut berkembang ke dalam masyarakat Indonesia yang dimaksudkan sebagai salah satu pemecahan terhadap menjulangnya anak putus sekolah dan anak yang belum sempat merasakan kehidupan pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Menurut Hartilaar, penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebenarnya sudah lama diterapkan di Indonesia, yaitu sejak masuknya kolonial ke Indonesia.Namun perkembangannya terhenti tanpa diketahui sebabnya.

Pada tahun 50-an muncul kembali pendidikan jarak jauh dalam bentuk penataran guru tertulis. Tujuan dari penataran ini adalah meningkatkan kualifikasi guru yang mengajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bahan belajar pada penataran ini terbatas hanya pada media cetak, yaitu modul.Untuk umpan balik terhadap peserta, bahan ajar dikirim melalui jasa pos.

Pada awal tahun 70-an muncul prakarsa baru dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh yaitu munculnya penataran guru dengan  berbasis siaran radio. Media utama dalam penataran ini adalah siaran radio yang dilengkapi dengan bahan penyerta cetak yang dikirim kepada peserta.

Perkembangan selanjutnya dalam rangka memajukan pendidikan jarak jauh ini maka dibentuklah pendidikan yang dinamai PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat Orang Tua dan Guru). Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan prinsip; belajar mandiri dengan menggunakan modul, belajar dengan kelompok sebaya, kompetisi untuk berprestasi, fungsi guru sebagai pengelola kegiatan belajar yang membantu pelajar dalam memecahkan masalah yang tidak dapat dipecahkannya, menggunakan lingkungan  sebagai sumber belajar, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dengan melibatkan masyarakat sebagai narasumber.

Dengan dibukanya SLTP Terbuka semakin menambah semaraknya perkembangan pendidikan jarak jauh ini pada tahun 1979.Pada tahun 1984, lembaga pendidikan tinggi mulai membuka diri untuk melayani kebutuhan terhadap pendidikan dengan dibukanya Universitas Terbuka.  Agak berbeda dengan pendidikan terbuka lainnya, pada SLTP Terbuka dan Universitas Terbuka media pembelajarannya yang digunakan lebih beragam.Mulai dari modul, siaran radio, kaset audio video dan siaran televise.

Mulai saat itu berbagai inisiatif dilakukan untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan jarak jauh yang diselenggarakan berbagai lembaga pendidikan.lembaga-lembaga tersebut memanfaatkan sistem belajar jarak jauh untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berada dilingkungan mereka masing-masing. Namun karena sumber-sumber yang diperlukan untuk pengembangan program belajar jarak jauh yang baik amat terbatas dan itu pun berserakan diberbagai tempat, inisiatif itu tidak tumbuh dengan sehat.

  2.3            Prinsip-prinsip  Pembelajran Jarak Jauh

Pembelajaran jarak jauh mencakup upaya yang ditempuh pembelajaran untuk mewujudkan sistem sepanjang hayat, dengan prinsip-prinsip kemandirian, keluwesan, keterkinian, kesesuaian, mobilitas dan efisiensi.[3]
a.       Prinsip kemandirian
Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kurikulum yang memungkinkan dapat dipelajari secara independent learning, pembelajar dihadapkan pada pilihan yang terbaik bagi dirinya sendiri, dari mulai pembentukan kelompok belajar, program pendidikan yang digunakan, pola belajar yang disukai, mengunakan sumber belajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Penyelesaian program yang ditentukan sendiri oleh pebelajar.Bahan-bahan pelajaran yang disediakan berupa paket-paket yang dapat dipilih oleh pebelajar, yang didukung oleh pembimbing atau tutorial dan ujian yang dirancang dengan pendekatan belajar tuntas.Pebelajar belajar dengan mandiri dengan sesedikit mungkin melakukan pertemuan dengan tutor yang bersangkutan.
b.      Prinsip keluwesan
Prinsip ini diwujudkan dengan dimungkinkannya peserta didik untuk memulai, mencari sumber belajar, mengatur jadwal dan kegiatan belajar, mengikuti ujian dan mengakhiri pendidikannya di luar ketentuan waktu dan tahun ajaran.Dikatakan luwes, pebelajar dimungkinkan untuk berpindah dari pendidikan formal ke pendidikan non-formal atau sebaliknya dari pendidikan non-formal ke pendidikan formal.
c.       Prinsip Keterkinian
Prinsip ini diwujudkan dengan tersedianya program pembelajaran yang pada saat ini diperlukan (just-in-time).Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan dan pelatihan konvensional yang program atau kurikulumnya termasuk buku-buku yang tersedia, dirancang untuk mengantisipasi keperluan masa mendatang (just-in-case).Kecepatan untuk memperoleh informasi yang baru merupakan suatu peluang untuk dapat bertahan dan berkembang dalam persaingan bebas.
d.      Prinsip Kesesuaian
Prinsip ini terwujud dengan tersedianya sumber belajar yang terkait langsung dengan kebutuhan pribadi maupun tuntutan lapangan kerja atau kemajuan masyarakat. Sumber belajar tersebut bobotnya harus setara dengan kompetensi yang diperlukan, tetapi disajikan dalam bentuk yang sederhana yang dapat dipelajari sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Prinsip ini disesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang pelajar.
e.       Prinsip Mobilitas
Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kesempatan bagi pebelajar untuk berpindah lokasi, jenis, jalur dan jenjang pendidikan yang setara setelah memenuhi kompetensi yang diperlukan.
f.       Prinsip Efesiensi
Prinsip ini diwujudkan dengan pendayagunaan berbagai macam sumber daya dan teknologi yang tersedia seoptimal mungkin. Pemberdayaan segala sumber disekeliling pebelajarakan membantu pebelajar untuk dapat menggunakan sumber tersebut sebanyak mungkin, sehingga pebelajar tidak merasa kerepotan mengenai sumber belajarnya.

  2.4            Karakteristik atau Ciri-ciri Pembelajaran Jarak Jauh

a)      Program disusun disesuaiakan dengan jenjang, jenis, dan sifat pendidikan. Waktu yang digunakannya pun sesuai dengan program tersebut.[4]
b)      Dalam proses pembelajaran tidak ada pertemuan langsung secara tatap muka antara pengajar dengan pembelajar, sehingga tidak ada kontak langsung antara pengajar dan pembelajar.
c)      Pembelajar dan pengajar terpisah sepanjang proses pembelajaran itu karena tidak ada tatap muka seperti halnya dalam pembelajaran konvensional, sehingga pembelajar harus dapat belajar secara mandiri.
d)     Adanya lembaga pendidikan yang mengatur pembelajar untuk belajar mandiri. Untuk itu, cara belajar mandiri pembelajar perlu dikelola secara sistematis. Penyajian materi pembelajar, pemberian bimbingan kepada pembelajar, dan pengawasan serta jaminan keberhasilan pembelajar dilakukan oleh pengajar.
e)      Lembaga pendidikan merancang dan menyiapkan materi pembelajaran, serta memberikan pelayanan bantuan belajar kepada pembelajar.
f)       Materi pembelajaran disampaikan oleh media pembelajaran, seperti Komputer dengan internetnya atau dengan program e-learning.
g)      Melaluai media pembelajaran tersebut akan terjadi komunikasi dua arah (interaktif) antara pembelajar dengan pengajar, pembelajaran dengan pembelajar lain, atau pembelajar dengan lembaga penyelenggara pembelajaran jarak jauh.
h)      Tidak ada kelompok belajar yang bersifat tetap sepanjang belajarnya, karena itu pembelajar menerima pembelajaran secara individual bukiannya secara kelompok.
i)        Paradigma baru yang terjadi dalam pembelajaran jarak jauh adalah peran pengajar yang lebih bersifat fasilitator yang memberikan bantuan atau kemudahan kepada pembelajar untuk belajar, dan pembelajar sebagai peserta dalam proses pembelajaran.
j)        Pembelajaran dituntut aktif, interaktif, dan partisipatif dalam proses belajar, karena sistem belajarnya, secara mandiri yang sedikit sekali mendapatkan bantuan dari pengajar atau pihak lainnya.
k)      Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dikembangkan secara sengaja sesuai kebutuhan dengan tetap berdasarkan kurikulum.

  2.5            Kelemahan dan Kelebihan Pembelajaran Jarak Jauh

Pembelajaran Jarak Jauh dapat sangat efektif, khususnya bagi para peserta yang lebih dewasa dan memiliki motivasi kuat untuk mengejar sukses dan senang diberi kepercayaan melakukan proses belajar secara mandiri. Tetapi, kesuksesan Pembelajaran Jarak Jauh yang meninggalkan ketaatan pada jadwal seperti pada proses pembelajaran tatap muka, bukanlah merupakan suatu pilihan yang mudah baik bagi instruktur maupun peserta didik. Maka dari itu PJJ memiliki keterbatasan sekaligus kelebihan. Berikut kelebihan pembelajaran jarak jauh[5]:
a)      Tersedianya fasilitas e-moderating di mana pendidik dan peserta didik dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
b)      Peserta didik dapat belajar atau me-review bahan pelajaran setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan.
c)      Bila peserta didik memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara mudah.
d)     Baik pendidik maupun peserta didik dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
e)      Peserta didik dapat benar-benar menjadi titik pusat kegiatan belajar-mengajar karena ia senantiasa mengacu kepada pembelajaran mandiri untuk pengembangan diri pribadi[6]
Walaupun demikian, pembelajaran jarak jauh juga tidak terlepas dari berbagai kelemahan dan kekurangan, antara lain[7] :
a)      Kurangnya interaksi antara pendidik dan peserta didik atau bahkan antar sesama peserta didik itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses pembelajaran.
b)      Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
c)      Masalah ketepatan dan kecepatan pengiriman modul dari puast pengelolaan pembelajaran jarak jauh kepada para peserta di daerah sering tidak tepat waktu, dan karenanya dapat menghambat kegiatan pembelajaran
d)     Peserta didik yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
e)      Tingginya kemungkinan gangguan belajar yang akan menggagalkan proses pembelajaran karena pembelajaran jarak jauh menuntut pembelajar untuk belajar mandiri atau belajar individual. Jika pembelajar tidak disiplin belajar secara mandiri, maka ada kemungkinan akan terjadi gangguan selama belajar, bahkan mungkin pula kegagalan dengan terhentinya program pembelajaran.
f)       Pembelajar ketika membuka internetnya tidak mendapatkan materi pembelajaran yang diperlukannya, sehingga perlu menghubungi pengajar atau tutornya. Namun jika harus menunggu pengajar atau tutornya untuk online melalui internet, maka pembelajar akan mengalami kesulitan mendapat penjelasan pengajar atau tutor secepat mungkin.
g)      Terjadi kesalahan pemahaman pembelajar terhadap materi pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Persepsi pengajar dan pembelajar terhadap materi pembelajaran dan tujuan yang harus dicapai mungkin berbeda. Pembelajar mungkin merasa sudah menguasai seluruh materi pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran tersebut, namun sebaliknya menurut pengajar, pembelajar tersebut masih belum menguasai materi pembelajaran secara tuntas sehingga tujuan pembelajaran pun belum tercapai sepenuhnya. Untuk mengatasi kesalahan persepsi ini, perlu diadakannya evaluasi pada setiap akhir materi pembelajaran.
                                                                                         





BAB III
PENUTUP

3.1           Kesimpulan

Pengertian pembelajaran jarak jauh adalah ketika proses pembelajaran tidak terjadinya kontak dalam bentuk tatap muka langsung antara pengajar dan pembelajar. Komunikasi berlangsung dua arah yang dijembatani dengan media seperti computer, televisi, radio, telepon, internet, video, dan sebagainya
 Beberapa orang ahli mengungkapkan pengertian pembelajaran jarak jauh, diantaranya G.Dogmen, G. Mackenzie, E. Christensen, dan P. Rigby, dan O. Peter.
AdapunPrinsip pembelajaran jarak jauh yaitu prinsip kemandirian, prinsip kelewesan, prinsip Keterkinian, prinsip Kesesuaian, prinsip Mobilitas, dan prinsip Efesiensi.
Karakteristik atau ciri-ciri Pembelajaran Jarak Jauh diantaranya yaitu (1) pemisahan antara pengajar dan pembelajar, (2) pengaruh institusi/organisasi pendidikan,(3) penggunaan media yang menghubungkan guru dam pembelajar,(4) berlangsungnya komunikasi dua arah,(5) memperhatikan pembelajar sebagai individu yang belajar,(6) dan pendidikan sebagai suatu industri.


 


DAFTAR PUSTAKA


Munir.2009.Pembelajaran Jarak Jauh: Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.Bandung: Alfabeta.
Aristorahadi.2008.Konsepsi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. http://aristorahadi.worpress.com.
Sadiman, Arief S.1999.Jaringan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Indonesia,Pusat Teknolonologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan.Jakarta: Depdeknas.
Hamalik,Oemar.1994. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh dan Pembinaan Ketenagaan. Bandung:Trigenda Karya.
Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.




[1] Munir.Pembelajaran Jarak Jauh: Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bandung: Alfabeta.2009.hlm.16
[2] Aristorahadi.konsepsi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. http://aristorahardi.wordpress.2008.
[3] Munir.Pembelajaran Jarak Jauh: Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bandung: Alfabeta.2009.hlm.22
[4] Munir.Pembelajaran Jarak Jauh: Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bandung: Alfabeta.2009.hlm.25
[5] Rusman.Model-model pembelajaran, Jakarta:RajaGrafindoPersada.2011.hlm.351
[6] Oemar Hamalik.Sistem Pembelajaran Jarak Jauh dan Pembinaan Ketenagaan, Bandung:Trigenda Karya.1994.hlm.52
[7] Rusman.Model-model pembelajaran, Jakarta:RajaGrafindoPersada.2011.hlm.352